Awalnya benih bingung cara menghadapi peserta didiknya yang harus dia sulap agar pintar, tidak banyak bicara (pasif) dan lebih senang berada di kolong meja atau disela-sela bangku. Berkali-kali Benih memberi pengertian, tak juga mau berubah.

Lambat laun Benih mulai terbiasa dan memahaminya. Bagi Benih adalah selama anak didiknya merasa nyaman dan senang, itu lebih baik daripada anak itu tertekan.

Itu baru satu anak, belum lagi anak-anak yang lain. Benar-benar membuat Benih tersipu bingung…. hehehehe

Perhatikan baik-baik…gaya anak-anak yang akan Benih sulap,

“Enakan di bawah meja” kata N

 

“Males nulis…ibu saja yang nulis nanti saya tinggal isi jawabannya” kata R

 

“Nonton petualangan Mimi dulu ya bu, nanti belajarnya” kata mereka.

 

“Aku gak mau nulis di buku, nempel aja di buku atau papan tulis ya bu..? kata  K merayu.

Sim…salabim…upsss,

maaf anak-anak, tongkat ibu kurang keren ya.  Do’akan ibu dapat rejeki biar sulap menyulapnya bisa pakai tongkat layar datar…kalian tinggal ‘CLICK’.

 

Sulit tuk tidur malam itu, karena esok pagi tepat tgl. 10 Desember 2011 adalah hari lomba kreatifitas guru. Iseng-iseng gagal dapat hadiah, aku ikutan memeriahkan dengan berpartisipasi memamerkan merchadise yang aku buat sendiri dari bahan flanel.

 

Lumayan ramai suasana. Yang ikut berbagai perlombaan, tampak tegang di sebuah ruangan yang telah disediakan. Sementara yang tidak ikut lomba, cuci mata di stand perwakilan dari tiap kecamatan se-kotamadya  Bekasi.

Wow…..guru-guru itu kreatif banget deh. Berbagai barang bekas, mereka jadikan barang-barang yang berdaya guna, unik. Gak nyangka banget… coba tebak ya

Dari apakah merchandise ini di buat ?

gak nyangka kan, kalo ternyata ini terbuat dari bekas kemasan agar-agar (Jelly) yang biasa di beli anak-anak.

Tentu tak perlu berpikir panjang untuk setuju, kalau aku bilang Guru-guru PAUD di Indonesia itu kreatif….

                                         SETUJUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!

 

Ada sedikit perbedaan di Gedung Walikota Bekasi pagi 20 November 2011. Banyak terlihat guru-guru satu persatu masuk ke dalam gedung tersebut. Aktivitas kedatangan guru mulai terjadi antara pukul 07.30 – 09.00 WIB.

Termasuk aku yang dari pagi sudah sibuk berbenah diri, biar gak terlambat sampai di tempat. Aku termasuk orang yang gak suka duduk di belakang. Jadi pagi itu aku segera meluncur ke kantor Walikota.

Alhamdulillah panitia ternyata telah mengatur semuanya dengan baik. masing-masing peserta telah mendapatkan nomor duduk. jadi kami tak perlu berebut mencari kursi.

Sungguh tak menyesal aku ikut pelatihan ini. Indosat sebagai sponsor dalam pelatihan ini benar-benar memberikan supportnya. Tak segan-segan, doorpricenya pun wuihhhh…..asyik. Meski aku sedikit kecewa pada diri sendiri karena tak mendapatkan satupun, tapi aku senang karena ada ilmu yang bisa ku bawa pulang.

Terima kasih IGI dan Indosat

Negeri Daun Jati adalah sebuah negeri yang kaya raya. Selain kaya Alam, negeri ini juga kaya sumber daya manusianya.

Namun diantara kekayaan ini, pekerjaan sebagai penyihir adalah pekerjaan yang rakyat anggap adalah pekerjaan mulia. Dimana seorang  penyihir mampu mengubah orang yang bodoh menjadi pintar.

Sebab itulah, para pengurus kerajaan berusaha memberikan kesejahteraan bagi para penyihir.

Tak seberapa jauh dari pusat kerajaan, hiduplah seorang penyihir kecil bernama Benih. Setiap harinya Benih dengan rajin menyulap perkembangan anak-anak usia dini. Demi pengabdiannya, Benih rajin membaca dan mengikuti setiap seminar dan pelatihan bagi para penyihir. Bahkan Benih ikut menjadi anggota aktif di suatu perkumpulan bagi penyihir kecil di dusunnya.

Suatu hari, Benih mendapat kabar gembira bahwa dirinya telah termasuk salah satu penyihir yang mendapat sedikit perhatian dari kerajaan setiap 6 bulan sekali sebesar 600 lembar daun jati. Bertambah rajinlah Benih untuk berkreasi.

Bulan yang di nanti telah tiba, perhatian dari kerajaan akan Benih terima hari ini untuk yang pertama kalinya. Impiannya akan mengganti tongkat ajaibnya dengan yang lebih modern mungkin akan segera tercapai.

Pagi-pagi sekali Benih sudah bernyanyi kecil, membayangkan akan segera membeli tongkat baru. Benih berkumpul dengan kelompok kecilnya. kemudian pengurus kelompok mengumumkan bahwa ada uang kontribusi bagi penyihir yang mendapatkan perhatian kerajaan sebesar 35 lembar daun jati. Lalu Benih dan rekan-rekan penyihir kecil berangkat ke pendopo kecil kerajaan.

600 lembar daun jati dibagikan. Begitu pula dengan Benih. Nama Benih di panggil, duduk dihadapan prajurit kerajaan. Salah seorang Prajurit kerajaan mengatakan bahwa ada biaya administrasi untuk pengambilan dari istana ke pendopo sebanyak 25 lembar daun jati.

Benih menghitung….hitung….hitung….600 lembar dikurang 35 lembar dikurang 25 lembar sama dengan 540 lembar daun jati. Benih kembali berpikir, dalam rumahnya ada 4 penyihir dan kebutuhan rumah. Namun hanya 2 penyihir yang mendapat perhatian kerajaan. Baiklah…Benih akan berbagi dengan yang lain.

Kembali Benih berhitung…hitung…hitung…. 540 lembar ditambah 540 lembar di bagi 5 (4 penyihir dan 1 untuk kebutuhan rumah) sama dengan 216 lembar. Itulah jumlah lembar daun jati yang Benih terima.

Tongkat Ajaib yang baru…. mungkin harus menunggu lebih lama lagi. Padahal dalam penantian membeli tongkat ajaib yang baru itu, ada puluhan anak-anak yang terpaksa disulap apa adanya.

Bim Salabim…jadi apa…prok…prok…prok ???

Dalam benakku tak pernah terpikir untuk menjadi seorang guru, apalagi itu guru TK. Aku melihat sosok kakak sepupu yang rata-rata adalah orang kantoran, membuat aku berangan-angan untuk menjadi seperti mereka.

Itu dulu…beberapa tahun yang lalu.

Namun semua cita-cita ku itu lenyap setelah aku melihat senyum dalam foto-foto ini:

Senyum mereka mengajakku untuk belajar sambil bermain bersama mereka, melupakan cita-citaku dan memberiku kebahagiaan baru.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.